Oleh: nandyagoesti | Oktober 7, 2008

Kisah inspiratif sang Laskar Pelangi

“Kepemimpinan kelak akan dipertanggung jawabkan di akhirat.” – Sahara,

“Kekuatan itu dibentuk lewat iman, bukan jumlah tentara.” – Pak Harfan,

“Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya” – Pak Harfan,

“Kita semua harus berani punya cita-cita” – Lintang,

“Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan” – Pasal 31 UUD 1945.

Bukan tanpa alasan jika saya sampai menyaksikan film “Laskar Pelangi The Movie” hingga dua kali. Film arahan Riri Riza yang berdasarkan pada novel inspiratif karya Andrea Hirata ini memang benar-benar dapat membuat para penontonnya terkesima dan mendapatkan pelajaran yang luar biasa dari film ini.

Tidak dapat dipungkiri, dalam hati saya terjadi dua kejadian yang terlihat saling bertolak belakang setelah menyaksikan film luar biasa ini. Gerimis dan terbakar. Ya, gerimis dan terbakar. Gerimis, hati saya menjadi gerimis melihat perjuangan heroik Pak Harfan (Ikranegara) dan Bu Muslimah (Cut Mini) yang dengan tulus ikhlas dan pantang menyerah mempertahankan SD Muhammadiyah karena ingin membantu anak-anak miskin di Belitong yang ingin sekolah. Terbakar, hati saya menjadi terbakar melihat jiwa pantang menyerah dan semangat untuk belajar yang tampak “lapar” dari seorang Lintang, anak seorang nelayan di Tanjung Kelumpang yang rela menempuh perjalanan jauh untuk dapat bersekolah.

Sedikit sinopsis mengenai film ini, kisah Laskar Pelangi ini dimulai dengan perjuangan Bu Mus dan Pak Harfan dalam mencari 10 anak yang mau belajar di SD Muhammadiyah, Gantong. Apabila tidak sampai sepuluh murid yang mendaftar disana, SD tersebut akan ditutup. Alhamdulillah akhirnya mereka berhasil juga mendapatkan sepuluh murid. Dalam lima tahun perjalanannya, kesepuluh murid tersebut pun tumbuh dengan berbagai bakat dan keunikannya masing-masing. Ada tiga orang yang cukup menonjol yaitu Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno), yang menjadi pemacu dan pembakar semangat para Laskar Pelangi dan Bu Mus serta Pak Harfan untuk mempertahankan mimpi-mimpi dan mempertahankan sekolah mereka.

Cobaan dan halangan untuk mempertahankan sekolah mereka ternyata menjadi semakin berat. Salah satu sosok penting pergi meninggalkan mereka. Dan justru semenjak itulah perjuangan yang sesungguhnya mulai terlihat. Semenjak itulah semangat luar biasa yang contagious mulai terasa amat kental.

Begitu kuat pesan moral yang ditawarkan oleh film ini membuat film ini nampak sangat istimewa jika dibandingkan dengan prototype film-film Indonesia saat ini yang hanya berkutat di dunia mistis, ataupun humor-humor yang cenderung nakal. Film ini bagaikan sebuah oasis di tengah-tengah keringnya film-film mendidik di bangsa ini. Intinya film ini jelas merupakan a must see film bagi anda yang sudah sangat jengah dengan kondisi perfilman Indonesia, bagi anda yang masih belum memiliki cita-cita dan mimpi dalam hidup, bagi anda yang entah mengapa kehilangan motivasi untuk berprestasi, bagi anda yang diberikan segala kelengkapan anugrah oleh Tuhan namun enggan bersyukur, dan bagi anda yang memiliki semangat hebat untuk memperbaiki kehidupan di tengah-tengah jutaan kekurangan yang anda alami.


Responses

  1. film adaptasi novel terburuk sepanjang masa. gagal total.
    1. film LP seharusnya mampu menggambarkan pentingnya pendidikan secara non verbal, yang parahnya justru dikatakan oleh para guru di sekolah muhammadiyah, hal yang justru terasa dihindari pada bukunya.
    2. pembangunan karakter yang amat lemah, coba lihat karakter Ikal yang sering diperlihatkan celingukan gak jelas, guru2 yang terlalu sering kelihatan ngomel2 tentang keadaan. terlihat sekali ada kebingungan pada kepentingan mana yang ingin ditonjolkan : apakah anak2 laskar pelangi, atau tujuan pesan2 moral.
    3. pengambilan gambar yang buruk, coba lihat pesta background blur dimana2, komposisi yang kurang pas, goyangnya pengambilan gambar, penggunaan sudut pandang yang kurang lebar pada scene landscape, dll.
    4. keinginan untuk “melucu” yang tidak pada tempatnya. penggunaan efek2 dangdut yang menyedihkan, misalnya saat Ikal melihat kuku A Ling saat mengambil kapur…
    5. jelas2 skenario yang dibuat hanya mengambil dari fragmen bab yang ada pada novel, tidak ada benang merah yang kuat untuk mengantar penonton menikmati cerita dari awal hingga akhir. hanya potongan2 terputus2 cerita seperti novelnya.


    my comment :
    terimakasih mbak/mas atas komentarnya, ini merupakan komentar kecewa pertama yang saya dengarkan dari orang yang menonton LP. hahahaha. tapi memang setiap orang bebas berpendapat dan ada beberapa poin yang memang saya sedikit banyak setuju dengan pendapat mbak/mas. walaupun begitu menurut saya mah tetap tidak bisa dikatakan gagal total juga. hahahaha. tapi ya saya turut senang kok masih ada orang yang mau mengkritisi film yang menurut sebagian orang sangat luar biasa ini.

  2. sangat beruntung yang menonton film ini sebelum membaca novelnya… karena benar2 bisa menilai film ini secara tulus tanpa membandingkan dengan novelnya…

    saya kebetulan tidak termasuk orang2 yang beruntung tersebut, jadi memang ada sedikit rasa kecewa setelah menonton filmnya

    di luar itu, memang film ini menggambarkan suatu perjuangan yang luar biasa dari sedikit manusia yang menyadari bahwa pendidikan itu tidak hanya mencari gelar atau status semata, namun benar2 untuk mendapatkan ilmu

  3. saya sangat suka dengan novel ini,apalagi saat mulai beredar filmnya saya langsung menontonnya.
    setelah saya melihat film tersebut saya langsung kagum dengan para anggota laskar pelangi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: