Oleh: nandyagoesti | September 27, 2008

Keutamaan sepertiga akhir Ramadhan

Ramadhan sebentar lagi akan segera berakhir. Bulan yang akan selalu menjadi momentum yang sempurna bagi kita untuk mencari ridho, ampunan dan berkah dari Allah S.W.T. Bulan yang bagi orang-orang beriman selalu menjadi ladang amal yang amat berlimpah dan ladang pengampunan dosa yang luar biasa. Menurut para ahli, bulan Ramadhan dibagi kedalam tiga fase. Fase pertama atau sepuluh hari pertama bulan Ramadhan adalah fase rahmat, fase kedua adalah fase maghfirah, dan sepuluh hari terakhir atau fase ketiga adalah fase pembebasan dari api neraka.

Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi Muhammad S.A.W. ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan,

Beliau jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan menbangunkan keluarganya.”

Mengapa sepertiga bulan terakhir menjadi begitu luar biasa dan mendapat perhatian utama dari Rasulullah S.A.W.? Paling tidak ada dua sebab utama menurut http://www.dakwatuna.com.

Sebab pertama adalah karena sepuluh hari terakhir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan dan amal perbuatan manusia itu tergantung pada akhirnya / penutupannya. Seperti doa Rasulullah S.A.W.

“Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu kelak.”

Yang terpenting dari manusia adalah mengakhiri hidupnya atau perbuatannya di dalam kebaikan, sebab ada orang yang selama hidupnya berjejak pada kebaikan namun memilih untuk mengakhiri hidupnya tidak secara khusnul khotimah.

Sebab kedua adalah kemungkinan turunnya lailatul qadr di sepertiga malam terakhir sebagaimana firman Allah S.W.T.

“Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkan di dalamnya Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)”

dan sebagaimana dikatakan dalam sabda Rasulullah.

“Carilah lailatul qadr di sepuluh terakhir Ramadhan”

Dari dua sebab diatas, kita dapat memahami mengapa Rasulullah S.A.W amat berantusias dan bersemangat untuk beribadah lebih di sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Dan memang sepantasnyalah kita juga ikut beribadah dengan lebih intens di sepuluh terakhir Ramadhan ini. Belum tentu Ramadhan tahun depan masih kita jumpai.

Namun tentu saja jadikanlah bulan ini sebagai ajang pembiasaan diri sehingga selama 11 bulan ke depan kita bisa beribadah dengan semangat layaknya ibadah kita di bulan Ramadhan. Karena ada sebagian manusia yang menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan keta’atan dan qiraatul Qur’an, kemudian ia meninggalkan itu semua bersamaan berlalunya Ramadhan.

Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah S.W.T. Amin….

About these ads

Responses

  1. subhanallah…

    Taqabalallaahu mina waminkum,Shiyaamana wa shiyaamakum
    Minal Aidin wal Faidzin.
    Mohon maaf lahir dan batin.

  2. @ sigma…
    minal aidin wal faidzin juga ya sig..
    maafkan awa lah suka banyak salah…
    hahaha


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: